Kenapa manusia suka sekali mengkotak-kotakkan segala sesuatu? Kenapa manusia selalu ingin menjadi yang paling tahu? Tidak bisakah kita berhenti sejenak, menghela napas, dan melihat setiap hal tanpa mencampuradukkannya dengan hal lainnya yang sama sekali tak ada hubungannya?
Salah satu hal yang membuatku terkadang kesal tentang menjadi manusia adalah kita suka sekali membuat perbandingan. Membandingkan satu hal dengan hal lainnya seolah terjadi begitu saja. Kita sangat terbiasa melakukannya. Dalam beberapa hal, kebiasaan 'membandingkan' ini mungkin diawali oleh pola berpikir manusia dalam memahami sesuatu. Contohnya, kita memahami konsep dingin dengan memahami kebalikannya yaitu panas. Kita memahami konsep cinta dengan memahami suatu bentuk kenihilan cinta, yaitu benci. Namun, ada beberapa perbandingan yang menurutku kurang masuk akal. Perbandingan ini ada hubungannya dengan salah satu tujuan hidup seseorang, yakni 'kebahagiaan'.
Pernah nggak sih kamu membandingkan hidup kamu dengan orang lain? Mungkin bukan pernah, tapi itu sudah jadi aktivitas otomatisasi otak kita. Tanpa kita sengaja pun, kita terbiasa membandingkan hidup kita dengan orang lain. Pasti pernah terlintas di benak kamu pemikiran-pemikiran seperti "Kayaknya enak kalo jadi A, dia bisa gini gini gini", "Kayaknya semuanya bakal lebih gampang kalo jadi A, dia ga harus gini gini gini", "Kenapa hidupku gabisa kayak hidupnya si A sih?".
Kenapa sih jalan hidup dia terlihat lebih mulus daripada jalan hidupku?
Memang manusia itu rentan terhadap lupa. Terkadang kita melupa, kita hidup sambil mengarungi waktu yang terlahir dari satu timeline demi satu timeline yang mengalir di detiknya sendiri-sendiri. Bahkan dalam satu masa hidup seseorang, tidak akan ada sebuah keadaan yang terus menerus sama. Sama seperti hari, yang tak melulu siang atau hanya malam saja dalam 24 jam. Ada banyak hal yang bisa terjadi dalam satu timeline waktu seseorang. Mungkin kita mendambakan beberapa hal dalam bagian hidup seseorang, namun bisakah kita melalui bagian-bagian lain dalam hidup orang itu ketika ia menderita, sama sekali tak bahagia? Mampukah kita melewatinya?
Kenapa kita berpikir kita bisa mengukur seberapa bahagia seseorang jika kita tidak pernah tahu seberapa dalam penderitaan yang pernah ia alami? Bagaimana kita bisa tahu seberapa indah puncak Rinjani jika kita tidak pernah tahu seberapa lelahnya mendaki sampai di puncaknya?
Tidak bisakah kita, sebentar saja, mengalihkan pandangan kita dari orang lain untuk menatap diri kita sendiri?
Komentar
Posting Komentar