Langsung ke konten utama

Kenapa Banyak Orang Menjadikan Menikah sebagai Parameter Self-Worth?




Apa Sih Self-Worth Itu?

Self-worth, simpelnya, bisa dibilang penilaian yang kita berikan untuk diri kita sendiri. Ini erat hubungannya dengan tingkat kepercayaan diri (self-esteem) kita. Semakin tinggi self-esteem kita, maka self-worth kita akan semakin positif. Dengan kata lain, kita bisa lebih memandang diri kita dengan banyak penilaian yang baik. 

Ada banyak hal yang mempengaruhi self-worth, terutama pengaruh eksternal yang kita peroleh dari kehidupan sosial kita. Manusia tentunya tidak akan bisa lepas dari berhubungan sosial dengan orang lain. Sebagai makhluk sosial, kita selalu menjadi bagian dari sebuah komunitas sosial. Di tiap-tiap komunitas sosial ini, kita bisa terpengaruh dengan pandangan orang lain terhadap aspek-aspek yang menentukan self-worth. Meski begitu, bukannya tidak mungkin jika seseorang bisa mempertahankan self-worth dia tanpa terkendali oleh pandangan orang lain.


Apakah Hubungan Menikah dengan Self-Worth?

Di jaman sekarang ini, menikah menjadi salah satu hot topic di berbagai lingkungan sosial. Menikah seolah-olah menjadi salah satu target pencapaian di dalam to-do list kehidupan setiap manusia. Sesuatu yang mungkin sangat familiar yaitu urutan siklus kehidupan yang sangat umum: sekolah - kuliah - kerja - menikah - punya anak - dst. Hal ini diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan template yang menjadi pengetahuan umum seperti "Skripsi kamu gimana??", "Kapan lulus?", "Mau kerja apa?", "Kapan menikah?", "Kapan punya anak?", dsb. Jika kita melihat siklus kehidupan yang seperti to-do list ini, mungkin segalanya jadi terlihat lebih simpel. Padahal, pada kenyataannya, ada banyak hal yang harus kita lalui di antara tiap stage-nya. 

Untuk orang-orang yang menanyakan pertanyaan-pertanyaan template kapan lulus dan lain sebagainya, jarang dari mereka yang ingin tahu hal-hal seperti dosbing kita kayak gimana sih, kita harus nunggu berapa lama buat ketemu dosbing, atau seberapa susahnya dapet approval dari dosbing. Ketika membahas pernikahan pun, kebanyakan topik-topiknya lebih general dan tidak terlalu membeberkan permasalahan-permasalahan mendalam yang ditemui di rumah tangga mereka. Iya kan? Sebagai akibatnya, banyak orang menilai pernikahan sebagai sesuatu yang didambakan setiap orang. Atau, hal itu dipandang sebagai sesuatu yang klise seperti di dongeng-dongeng di mana setelah sang putri dan pangeran menikah, maka narasinya akan berbunyi "and they lived happily ever after". Bahkan, meskipun seseorang itu sadar dan tahu akan berbagai struggle yang akan dia hadapi setelah dia menikah dengan si A, ia akan tetap memandangnya sebagai sesuatu yang 'pastinya ingin dan harus dicapai semua orang'. 

Mungkin ada benarnya. Tapi, di sisi lain, ini bisa jadi masalah ketika ada embel-embel tuntutan seperti umur, pekerjaan, dan hal-hal lainnya terkait background si calon pengantin. Misalnya, banyak yang memandang bahwa umur ideal untuk menikah itu di umur 25-an. Hal-hal seperti ini sangat berpengaruh terhadap self-esteem seseorang. Jika di atas umur 25-an seseorang masih belum menikah, dengan kondisi persepsi sosial yang seperti tadi, orang itu jadi akan memandang negatif dirinya. Self-esteem menurun berimbas pada pandangan seseorang tentang seberapa berharga dirinya. Kita seringkali dikendalikan oleh pandangan sosial seperti pandangan bahwa 'menikah itu harus di umur 25-an'. Karena hal ini dipandang sebagai sebuah pencapaian, bagi orang-orang yang belum menikah di batas umur itu pasti kenyataan itu membuat mereka memandangnya seperti sebuah 'kegagalan'. Sebagai imbasnya, hal ini berpengaruh terhadap bagaimana seseorang dan bagaimana orang lain menilai diri orang itu. Jadi, seolah-olah menikah itu dianggap sebagai salah satu faktor penting untuk mengukur self-worth seseorang.

Ada Nggak Sih Basis Teori yang Membuat Orang Berpikiran Seperti Itu?

Tentunya ada. Seperti yang ditulis oleh Baumeister dan Vohs pada jurnal "The Pursuit of Meaningfulness in Life" di dalam  Handbook of Positive Psychology, bahwasanya setiap manusia memiliki sebuah insting untuk terus mencari 'makna'. Dengan adanya makna inilah yang membedakan manusia dari spesies lainnya. Karena makna bersifat non-fisik, ia hanya bisa diproses dengan mental processing di dalam lingkup pengetahuan manusia. Kita memberikan makna untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Sebagai contoh, kita akan memaknai sebuah kegagalan sebagai ujian dari Tuhan ataupun sebagai salah satu fase yang harus dilalui sebelum mencapai keberhasilan. Makna ini bisa bersifat subjektif ataupun kolektif. Subjektivitas dalam makna dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman hidup satu individu yang berbeda dari individu lainnya. Sementara itu, makna yang kolektif dibentuk oleh pandangan umum masyarakat yang disetujui ataupun dipercayai mayoritas anggota masyarakat itu.

Di dalam jurnal ini, dijelaskan bahwa dasar dari terbentuknya self-worth adalah untuk membuat diri seseorang percaya bahwa dirinya cukup baik dan berharga di mata orang lain. Secara subjektif, cara-cara yang digunakan untuk mencapai self-worth dapat berupa pencapaian beberapa target yang dapat membuat dirinya terlihat lebih baik dibandingkan orang lain. Secara kolektif, pencapaian self-worth dapat dilakukan dengan menjadi bagian dari kelompok-kelompok atau lingkaran sosial (circle) yang dianggap berharga atau memiliki nilai lebih dibanding kelompok lainnya. Dapat disimpulkan, bahwa pencapaian self-worth ini pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai opsi yang beraneka ragam. Akan tetapi, di sisi lain, ada juga serangkaian langkah-langkah pencapaian self-worth yang dipercayai mayoritas anggota masyarakat. Inilah yang terjadi dengan munculnya template siklus kehidupan yang harus urut seperti to-do list yang saya ungkapkan sebelumnya. Karena banyak orang yang menyetujui siklus itu, maka melakukan sesuatu yang berbeda akan terlihat tidak umum bagi masyarakat, atau bahkan dipandang sebagai sesuatu yang negatif.

Kebanyakan dari kita berpikir bahwa mencapai kehidupan yang bermakna, berdasarkan template yang dibuat orang lain maupun diri sendiri, akan membuat kita hidup bahagia. Kita berpikir bahwa dengan memberikan makna maka banyak hal yang sebenarnya bersifat fluktuatif akan menjadi stabil bagi kita. Sebagai contoh, hubungan antara dua manusia tidak akan bisa sama persis sepanjang kehidupan. Hubungan ini akan mengalami berbagai perubahan seperti perasaan yang berubah atau keinginan-keinginan yang tidak lagi mutual di antara keduanya. Meskipun begitu, manusia rentan terhadap sesuatu yang tidak stabil atau perubahan. Maka dari itu, mereka memberikan 'makna' terhadap sesuatu yang bisa berubah, salah satu contohnya yaitu dengan menikah. Dengan adanya pernikahan, maka akan ada sebuah kontrol di dalam hubungan di antara dua manusia tersebut, yaitu sebuah ikatan yang sah di antara keduanya.

Namun, hanya memberikan 'makna' saja tidak cukup untuk mencapai kebahagiaan. Sepertinya hal inilah yang terlewatkan dari benak sebagian besar dari kita. Banyak yang memandang menikah sebagai salah satu alternatif pasti untuk membuat kita merasa 'less miserable'. Persepsi sosial yang ada memunculkan berbagai pemikiran seperti 'at least aku udah menikah walaupun belum punya pekerjaan tetap', 'at least aku udah menikah walaupun belum punya anak', 'at least aku udah menikah, sementara dia belum'. Perasaan 'sudah menikah' ini seperti menjadi sebuah kelegaan di antara kehidupan yang penuh permasalahan runyam. Setidaknya ada satu hal positif di dalam hidupku saat ini. Mungkin banyak yang berpikir seperti itu. Meski begitu, seperti yang diungkapkan oleh Baumeister (1991) bahwa kebermaknaan (meaningfulness) tidak cukup untuk menjamin tercapainya kebahagiaan. Bisa jadi hidup kita bermakna tapi tidak membuat kita cukup bahagia. Bisa jadi kita hidup bahagia (menurut pandangan kita) tapi sebenarnya hidup kita itu tidak bermakna.




Sumber referensi:
Snyder, C. R., Lopez, S. J. 2002. Handbook of Positive Psychology. New York: Oxford University Press.

Catatan penulis:
Tulisan ini hanya pandangan subjektif penulis. Sementara itu, teori-teori yang disebutkan bisa ditemukan di sumber referensi di atas.







Komentar

Popular Posts

It's Not Perfect, But It's Okay

Can’t we go back a little bit to the past? To the years when we did a better job in appreciating ourselves? To the place where there was less jealousy in our bigger circle of friends? Days and years dragged our jaded feet away from our greatest moment, greatly unnoticed. Yet we’re standing on a thin line of uncertainty where most of us think everything is ‘supposed to be perfect’ within a ‘certain timeline’. So where did that person go? The person who could still feel amazing even if no one told her she was pretty? The person who could still feel great even if she had none of those designer bags? How does one become so fragile as they age? Life is not supposed to be perfect. Getting your heart broken. Not having enough money to buy expensive things. Being single in your 30s. Not pursuing your dream job. Or even having no dream. They are all fine. Encountering ‘misfortunes’ does not mean you will never deserve great things. We will never really know what life has in store fo...

Peace at the Cost of Nothing

Human is a creature full of desires. Many perceive the fulfillment of one's desire equals happiness, or even serves the meaning of life. And, on the other hand, the failure to fulfill one's desire is seen as the absence of value, meaning, happiness or any other notions one might relate to the fulfillment of desire.  However, I believe that the absence of desire itself is, on the contrary, the root of a peaceful life. Even so, it has never been an easy quest to accomplish. But, I think that, perhaps, the key to this seemingly-impossible path to live a life without any desires lies on the core of ourselves. We were born into this world one day. And as we grow up, we learn a lot from our life experiences. Losses, failures, victories, success, and many more. We were born in distinct physical appearances and grew in different families and environments. It has been our nature to see the differences between us and other people. It has been our nature to compare things beca...

Overthinking Journal: Bisakah Kita Mengukur Kebahagiaan?

Kenapa manusia suka sekali mengkotak-kotakkan segala sesuatu? Kenapa manusia selalu ingin menjadi yang paling tahu? Tidak bisakah kita berhenti sejenak, menghela napas, dan melihat setiap hal tanpa mencampuradukkannya dengan hal lainnya yang sama sekali tak ada hubungannya? Salah satu hal yang membuatku terkadang kesal tentang menjadi manusia adalah kita suka sekali membuat perbandingan. Membandingkan satu hal dengan hal lainnya seolah terjadi begitu saja. Kita sangat terbiasa melakukannya. Dalam beberapa hal, kebiasaan 'membandingkan' ini mungkin diawali oleh pola berpikir manusia dalam memahami sesuatu. Contohnya, kita memahami konsep dingin dengan memahami kebalikannya yaitu panas. Kita memahami konsep cinta dengan memahami suatu bentuk kenihilan cinta, yaitu benci. Namun, ada beberapa perbandingan yang menurutku kurang masuk akal. Perbandingan ini ada hubungannya dengan salah satu tujuan hidup seseorang, yakni 'kebahagiaan'. Pernah nggak sih kamu memband...